Buku Kajian Islam - Nasihat: Jauhi Ghibah, Dosa yang Menggerogoti Pahala Kebaikan
Pernahkah kita merasa telah berbuat banyak kebaikan, tetapi hati tetap gelisah karena lisan kita masih mudah membicarakan orang lain? Itulah bahaya ghibah, dosa yang sering dianggap ringan padahal dampaknya sangat berat. Ghibah adalah membicarakan saudara kita dengan sesuatu yang tidak ia sukai, meskipun hal itu benar adanya. Bila yang dibicarakan itu tidak benar, maka ia berubah menjadi fitnah yang lebih berat lagi. Banyak majelis yang awalnya hangat berubah menjadi ajang ghibah tanpa disadari, dan banyak pahala kebaikan yang terkikis oleh dosa lisan yang kita anggap sekadar obrolan biasa. Karena itu, nasihat tentang ghibah perlu terus diingatkan, agar kita menjaga lisan sebagaimana kita menjaga salat dan puasa kita.
Apa Itu Ghibah dan Mengapa Ia Dilarang
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam menjelaskan ghibah dalam sebuah hadis riwayat Muslim, bahwa ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci. Ketika para sahabat bertanya tentang seseorang yang memang memiliki sifat tersebut, Nabi menjawab bahwa bila sifat itu benar ada padanya, maka itulah ghibah, dan bila tidak ada padanya, maka itu adalah fitnah. Penjelasan ini sangat penting, karena banyak orang berdalih bahwa mereka hanya berkata jujur, padahal kejujuran tidak menjadikan ghibah halal. Allah melarang ghibah dalam Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 12, dengan perumpamaan yang sangat keras, yaitu memakan daging saudaranya yang telah meninggal. Perumpamaan ini menunjukkan betapa menjijikkannya ghibah di sisi Allah, dan betapa beratnya dosa yang ditanggung oleh pelakunya.
Bagaimana Ghibah Menggerogoti Pahala
Para ulama menjelaskan bahwa pada hari kiamat, pahala orang yang mengghibah dapat berpindah kepada orang yang ia ghibahi sebagai bentuk keadilan. Bila pahalanya habis, dosa orang yang digunjingkan akan dipindahkan kepadanya. Gambaran ini seharusnya membuat kita bergidik, karena amal yang kita kumpulkan dengan susah payah selama bertahun-tahun bisa hilang karena obrolan yang hanya berlangsung beberapa menit. Ghibah juga merusak hubungan antar sesama muslim, menumbuhkan prasangka, dan memecah persaudaraan. Sebuah komunitas yang dipenuhi ghibah akan kehilangan kepercayaan, karena setiap orang khawatir dirinya akan menjadi bahan pembicaraan berikutnya. Karena itu, menjaga lisan bukan hanya urusan pribadi, melainkan juga penjagaan terhadap keutuhan umat.
Bentuk-Bentuk Ghibah yang Sering Tidak Disadari
Ghibah tidak selalu berbentuk ucapan yang terang-terangan. Ia bisa muncul dalam bentuk sindiran, isyarat tangan atau mata, tulisan di media sosial, hingga komentar yang dibungkus candaan. Menyebut kekurangan fisik seseorang, membicarakan masalah rumah tangganya, atau menyebarkan aibnya dengan dalih sekadar cerita, semuanya termasuk ghibah bila orang tersebut tidak menyukainya. Bahkan mendengarkan ghibah dengan senang hati dan tidak berusaha menghentikannya pun tidak lepas dari dosa, karena pendengar ikut menyuburkan majelis tersebut. Di zaman media sosial, bahaya ini semakin besar, karena satu komentar dapat dibaca oleh ribuan orang dan meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Karena itu, kehati-hatian dalam bermedia sosial adalah bagian dari menjaga lisan di zaman ini.
Cara Menjauhi Ghibah dalam Kehidupan Sehari-hari
Menjauhi ghibah membutuhkan latihan dan kesungguhan. Pertama, biasakanlah untuk berpikir sebelum berbicara, dan bertanyalah kepada diri sendiri apakah ucapan itu bermanfaat dan apakah orang yang dibicarakan rela mendengarnya. Kedua, bila kita berada dalam majelis yang mulai mengghibah, ubahlah pembicaraan kepada topik yang baik, atau tinggalkan majelis itu dengan cara yang sopan bila tidak mampu mengubahnya. Ketiga, sibukkan diri dengan ilmu dan amal yang bermanfaat, karena lisan yang sibuk dengan zikir dan ilmu tidak mudah tergelincir. Keempat, bila kita terlanjur mengghibah, segeralah bertobat kepada Allah, dan bila memungkinkan, mintalah maaf kepada orang yang bersangkutan atau sebutlah kebaikannya di tempat kita pernah mengghibahnya. Kelima, doakanlah saudara kita dengan kebaikan, karena mendoakan orang lain akan melembutkan hati dan mengikis rasa dengki yang sering menjadi akar ghibah.
Penutup: Jagalah Lisan, Jagalah Pahala
Saudaraku, lisan adalah nikmat yang besar sekaligus ujian yang berat. Dengan lisan kita dapat mengajak kepada kebaikan, membaca Al-Quran, dan menenangkan hati orang lain, tetapi dengan lisan pula kita dapat menghancurkan pahala dan persaudaraan. Marilah kita mulai hari ini dengan tekad untuk menjaga lisan, baik dalam pembicaraan langsung maupun di media sosial. Bila kita tidak memiliki sesuatu yang baik untuk dikatakan tentang saudara kita, diamlah, karena diam dalam hal ini adalah keselamatan. Semoga Allah menjaga lisan kita dari ghibah dan fitnah, membersihkan hati kita dari dengki, dan menjaga pahala kebaikan kita hingga kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan yang diridhai.
Posting Komentar